Bercocok Tanam Tanpa Tanah : FILM FARMING

Seiring perkembangan zaman, teknologi pertanian semakin maju. Salah satunya adalah teknologi “Film Farming”,teknologi ini tidak memerlukan tanah . Metode pertanian menggunakan film farming sesuai dengan kebutuhan industri pertanian di era modern seperti sekarang. Saat ini, para petani mengalami kesulitan dalam menemukan lahan tanah berukuran luas. Selain itu, kualitas tanah juga terus mengalami penurunan seiring dengan penggunaan pupuk secara berlebihan .

Film farming ini karya Fisikawan Jepang Yuichi Mori yang bisa membuat metode bercocok tanam lebih efisien dan ramah lingkungan. Ide ini muncul ketika Mori menciptakan ginjal buatan. dia mengadaptasi bahan yang digunakan untuk menyaring darah dalam perawatan dialisis ginjal ke media pertumbuhan tanaman. Tanaman dapat memecahkan banyak masalah masyarakat dari penyakit gaya hidup hingga masalah lingkungan. dia membayangkan bercocok tanam bisa dimana saja, teknlogi ini memungkinkan bercocok tanam di gurun, di atas beton, di lahan basah, di tanah yang terkontaminas dan hampir di mana saja. Teknologi film farming adalah  teknologi pertanian berbasis membran hidrogel pertama di dunia untuk mengatasi beberapa masalah serius yang dihadapi komunitas dunia kita saat ini terkait kekurangan pangan, kelangkaan air, dan kontaminasi tanah., mari kita simak cara kerjanya

Tanaman dibudidayakan dan ditanam pada film tipis yang terbuat dari hidrogel yang dapat menyerap air dan nutrisi tetapi menghalangi kuman dan virus . Dalam sistem film farmer ,larutan nutrisi yang disuplai melalui film dari tabung tetesan bawah mengontrol nilai nutrisi, sedangkan larutan yang disuplai langsung ke film dari tabung atas mengontrol hasil. Akar tanamannya hanya menyebar sekitar permukaan film

  • Kelebihan film farming
  • Hemat air

Mampu untuk menanam buah-buahan dan sayuran tanpa membutuhkan tanah, pestisida atau bahan kimia berbahaya lainnya, serta menggunakan air 90% lebih sedikit daripada pertanian konvensional.

  • Mudah memeriksa kondisi tanaman

Petani mudah meilhat kondisi akarnya, dapat mengamati apakah kondisi tanaman sehat atau tidak

  • Dapat digunakan dimanapun

Metode ini dapat digunakan dimananpun tanpa tanah, mau di pasir, perkotaan , gedung atau tanah yang sudah tercemar juga bisa

  • Lebih murah dari metode hidroponik

Biaya awal dari Imec jauh lebih rendah daripada hidroponik, karena Imec tidak memerlukan sistem sirkulasi & sterilisasi yang mahal untuk media kultur masif

Penggunaan teknologi film farming bukan hanya dijepang saja, beberapa negara seperti china dan arab mulai menggunakannya teknologi ini,film farmer memang menjadi arternatif untuk memilih media tanam,namun jika  jumlah konsentrasi hidrogel yang terlalu tinggi pada media tanam akan menimbulkan efek negatif bagi pertumbuhan tanaman, karena kelembaban dalam media tanam terlalu tinggi dan penerapannya hanya di ruangan tertutup seperti rumah kaca yang memerlukan biaya tambahan. Melihat populasi global yang terus bertambah, pasokan air dunia terus menjadi perhatian yang lebih besar. Diperkirakan produksi pangan perlu meningkat 50 persen pada tahun 2050 untuk memberi makan 9 miliar orang yang akan menghuni Bumi, kita membutuhkan makanan dan air untuk memastikan kelangsungan hidup umat manusia dan teknologi ini memberi lebih banyak dari keduanya.

Sumber

http://agritech.unhas.ac.id/kmdtpuh/bisakah-teknologi-imec-film-farming-diterapkan-di-indonesia/

http://www.unido.or.jp/en/technology_db/4118/

https://paktanidigital.com/artikel/teknologi-film-farming/?fbclid=IwAR21I25dardcPRr-NcJb4aAeTtMWPCtO0eLCdbA8m4_mBU8kN4M-K4YR2so#.YSHI_44zbIU.

https://teknologitani.com/teknologi-film-farming-asal-jepang-bertani-tanpa-tanah-dan-sedikit-air/

https://cangkingan.desa.id/artikel/2020/8/20/konsep-model-pengembangan-smart-village

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *