
{"id":2269,"date":"2021-08-02T15:53:09","date_gmt":"2021-08-02T15:53:09","guid":{"rendered":"https:\/\/sanberfoundation.org\/?p=2269"},"modified":"2021-08-02T15:53:19","modified_gmt":"2021-08-02T15:53:19","slug":"pemanfaatan-teknologi-dan-pemberdayaan-desa-wisata","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/sanberfoundation.org\/?p=2269","title":{"rendered":"Pemanfaatan Teknologi dan Pemberdayaan Desa Wisata"},"content":{"rendered":"\n<p class=\"wp-block-paragraph\">          Indonesia merupakan negara yang memiliki banyak objek pariwisata untuk dikunjungi, baik wisata alam maupun wisata buatannya. Tingginya minat masyarakat yang ingin berkunjung di berbagai objek pariwisata, membuat industri pariwisata dapat mendatangkan manfaat dan keuntungan bagi sebagian besar masyarakat Indonesia. Tidak sedikit wisatawan lokal maupun mancanegara datang untuk menikmati daya tarik wisata yang ada di Indonesia. Banyak sekali objek wisata di Indonesia mulai dari daerah pesisir sampai pegunungan, tidak kalah menarik dengan negeri luar, ada banyak objek wisata di desa-desa Indonesia, kita sebut saja desa wisata<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">         Desa wisata adalah komunitas atau masyarakat yang terdiri dari penduduk suatu wilayah terbatas yang bisa saling berinteraksi secara langsung di bawah sebuah pengelolaan dan memiliki kepedulian, serta kesadaran untuk berperan bersama sesuai keterampilan dan kemampuan masing-masing, memberdayakan potensi secara kondusif bagi tumbuh dan berkembangnya kepariwisataan di wilayahnya. Desa wisata dibentuk untuk memberdayakan masyarakat agar dapat berperan sebagai pelaku langsung dalam upaya meningkatkan kesiapan dan kepedulian dalam menyikapi potensi pariwisata atau lokasi daya tarik wisata diwilayah masing-masing desa.\u00a0Fungsi desa wisata merupakan sebagai wadah langsung bagi masyarakat akan kesadaran adanya potensi tempat sebagai tempat wisata serta terwujudnya<a href=\"https:\/\/ubud.id\/bali-island\/sapta-pesona-7-charm\/\" target=\"_blank\" rel=\"noreferrer noopener\"> <\/a>saptapesona sehingga tercapai peningkatan pembangunan daerah melalui kepariwisataan <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">          Desa wisata saat ini telah menjadi salah satu tren pengembangan pariwisata di suatu daerah. Kemunculan beragam desa wisata dengan potensi masing-masing yang dimiliki, menjadi warna baru dalam dunia pariwisata.. Adapun Kriteria pengembangan Desa Wisata adalah adanya 4A + C1 yaitu :<\/p>\n\n\n\n<ol class=\"wp-block-list\" type=\"1\"><li>Memiliki Attraction\/atraksi wisata unggulan<\/li><li>Memiliki Amenities\/Kelembagaan<\/li><li>Memiliki Aksesibilitas\/Sarana-Prasarana yang memadai<\/li><li>Memiliki Community Involvement\/Keterlibatan Masyarakat<\/li><\/ol>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">          Saat ini pembangunan berkelanjutan <strong><em>(Sustaniable Development<\/em><\/strong>) telah menjadi agenda global dalam setiap proses pembangunan. Penerapan konsep pembangunan berkelanjutan di sektor <strong>pariwisata<\/strong> dikenal dengan konsep pembangunan <strong>pariwisata<\/strong> berkelanjutan (<strong><em>Sustaniable tourism Development<\/em><\/strong>), yang pada intinya mengandung pengertian pembangunan <strong>pariwisata<\/strong> yang tanggap terhadap minat wisatawan dan keterlibatan langsung dari masyarakat setempat dengan tetap menekankan upaya perlindungan dan pengelolaannya yang berorientasi jangka panjang. Upaya pengembangan dan pengelolaan sumber daya yang dilakukan harus diarahkan agar dapat memenuhi aspek ekonomi, sosial dan estetika. sekaligus dapat menjaga keutuhan dan atau kelestarian ekologi, keanekaragaman hayati, budaya serta sistem kehidupan. (WTO,1990). Gambran untuk pembangunan <strong>pariwisata<\/strong> berkelanjutan dapat diintegrasikan dalam tiga (3) sasaran utama pencapaian, yaitu :<\/p>\n\n\n\n<ol class=\"wp-block-list\" type=\"1\"><li>Kualitas sumber daya lingkungan (alam dan budaya), dimana pembangunan <strong>pariwisata<\/strong> harus tetap menjaga keutuhan sumberdaya alam dan budaya yang ada, serta memperhatikan daya dukung kawasan tersebut apakah masih mampu menerima\/mentolerir pembangunan <strong>pariwisata<\/strong><\/li><li>Kualitas hidup masyarakat setempat (sosial ekonomi), dimana pembangunan <strong>pariwisata<\/strong> harus mampu memberikan dampak positif (benefit) bagi sosial ekonomi masyarakat setempat, seperti menumbuhkan kesempatan kerja, atau bahkan menjadikannya sebagai masyarakat yang mandiri secara ekonomi.<\/li><li>Kualitas pengalaman berwisata (wisatawan), dimana pembangunan <strong>pariwisata<\/strong> harus peka terhadap tingkat kepuasan wisatawan., sehingga menjadikan perjalanan wisata nya sebagai sebuah pengalaman yang berharga. Dalam hal ini, kualitas produk wisata serta interpretasinya memiliki peranan sangat penting bagi kualitas pengalaman berwisata seseorang<\/li><\/ol>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">          Ketiga sasaran itu perlu diperhatikan, Berikut ada beberapa contoh desa wisata di Indonesia<\/p>\n\n\n\n<ol class=\"wp-block-list\" type=\"1\"><li>Desa Wisata Penglipuran Desa Penglipuran dikenal sebagai contoh pertama kali bentuk desa wisata di Indonesia. Desa wisata di Bali ini sempat mendapatkan penghargaan Kalpataru.<\/li><li>Desa Wisata Lerep terdapat di kawasan Kecamatan Ungaran Barat, Semarang, Jawa Tengah. Desa Wisata Lerep mempunyai daya tarik unggulan, yakni pasar kuliner jadul yang menghadirkan masakan khas lokal. Ada pula tradisi tahunan, seperti Iriban yang selalu menarik minat wisatawan.<\/li><li>Desa Sade berlokasi di daerah Rembitan, Kecamatan Puju, Lombok Tengah. Desa ini selalu menjadi desa wisata yang paling digemari oleh wisatawan, karena memiliki produk ekonomi kreatif seperti tenun, dan tari-tarian khas suku sasak yang merupakan suku asli dari lombok.<\/li><\/ol>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">           Menjadi desa wisata memang tidak mudah, ada berbagai tantangan , diantaranya ;<\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\"><li><strong>Kunjungan Wisata Belum Merata<\/strong><strong><\/strong><\/li><\/ul>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">          Keadaan dari tidak meratanya kunjungan wisatawan dapat mengindikasikan bahwa selain tujuan wisata dirasa kurang menarik atau karena belum terekspose dengan baik dan benar, serta kendala dari infrastruktur yang belum memadai untuk menuju daerah tujuan wisata. Hal ini tentu saja menjadi tantangan dan perlu dihadapi antara lain dengan melakukan dan meningkatkan promosi wisata dan dapat juga melakukan upaya-upaya pengemasan paket wisata yang lebih menarik disesuaikan dengan kebutuhan wisatawan. Kemudian untuk persoalan infrastruktur tentu menjadi pekerjaan bersama dengan pemerintah, untuk segera membangun sarana dan prasarana yang mendukung industri desa wisata.<\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\"><li><strong>Lemahnya Sumber Daya Manusia<\/strong><strong><\/strong><\/li><\/ul>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">          Dalam upaya pengembangan desa wisata sangat mementingkan profesionalisme sumber daya manusia, baik dalam pengelolaan investasi atau dalam bidang akomodasi, transportasi, komunikasi dan informasi.<\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\"><li><strong>&nbsp;Sistem Informasi yang masih kurang memadai<\/strong><strong><\/strong><\/li><\/ul>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">          Keberadaan sistem informasi ini yaitu untuk memberikan klarifikasi, sekaligus secara proaktif menyiapkan dan memberikan informasi tentang obyek wisata, kesiapan sarana, prasarana dan lain-lain. Informasi seputar rute menuju lokasi, fasilitas di lokasi kunjungan dan informasi lengkap seputar daerah kunjungan wisata perlu untuk disampaikan dengan sistem informasi yang baik dan tepat sasaran.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">          Dari tantangan itu jika disimpulkan perlu adanya SDM yang professional, pengunjung yang tidak merata dan sistem informasi . Untuk solusi ini desa wisata harus mulai melek ke teknologi informasi atau digital, misalkan untuk promos tempat wisata bisa dilakukan online , dan untuk informasi bisa dibuat social media, website atau aplikasi .<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">          Desa berikut bisa menjadi inspirasi untuk pengembangan desa wisata saat pandemi melalui teknologi .Di Tahun 2020 saat pandemi, Desa Wisata Tinalah melakukan inovasi desa wisata digital dengan pembuatan Aplikasi Desa Wisata Tinalah \u2013 Visiting Jogja di mobile apps. Fiture dalam aplikasi ini memuat tentang profil desa wisata, paket desa wisata, booking atau reservasi, digital tour elalui jelajah desa wisata melalui aplikasi, agenda terkini, notifikasi, games desa wisata, dan e-sertifikat untuk pengguna Aplikasi Dewi Tinalah. Pembayaran juga dapat melalui dompet digital dengan layanan QRis, dapat dibaya melalui GOpay, OVO, Shoppe dan layanan pembayaran digital lainnya<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">          Pemanfaatan teknologi informasi dalam digitalisasi desa wisata di tahun 2021 adalah pengembangan projek Aplikasi Jelajah Alam menggunakan AI (Artificial Intelligance). Nantinya Smart Apps ini akan menjadi bagian dari paket outbound dan edukasi di Desa Wisata Tinalah berbasis Teknologi dan Lingkungan. Dengan aplikasi ini nantinya wisatawan memiliki experience ketika melakukan aktivitas di Desa Wisata Tinalah terintegrai dengan Smart Apps tersebut. Penting bagi pengelola desa wisata saat ini melek akan TIK baik dari literasi, pemanfaatan dan cara pengembangannya. Selain itu juga perlu memahami konsep desa wisata digital, apa pengertiannya dan kawasannya. Desa wisata digital tidak terlepas dari pengertian desa wisata itu sendiri dan proses digitalisasi dari setiap aktivitas pengelolaan desa wisata<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Sumber :<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><a href=\"http:\/\/diparda.gianyarkab.go.id\/index.php\/en\/news\/item\/304-pengembangan-desa-wisata\">http:\/\/diparda.gianyarkab.go.id\/index.php\/en\/news\/item\/304-pengembangan-desa-wisata<\/a><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><a href=\"https:\/\/digitaldesa.id\/artikel\/apa-itu-desa-wisata\">https:\/\/digitaldesa.id\/artikel\/apa-itu-desa-wisata<\/a><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><a href=\"https:\/\/travel.kompas.com\/read\/2021\/04\/13\/120245527\/5-desa-wisata-spesial-di-indonesia-versi-sandiaga-uno?page=all\">https:\/\/travel.kompas.com\/read\/2021\/04\/13\/120245527\/5-desa-wisata-spesial-di-indonesia-versi-sandiaga-uno?page=all<\/a><a href=\"https:\/\/wisatahalimun.co.id\/pengembangan-desa-wisata\">https:\/\/wisatahalimun.co.id\/pengembangan-desa-wisata<\/a><a href=\"https:\/\/blog.bumdes.id\/2019\/08\/tantangan-yang-dihadapi-desa-wisata\/\">https:\/\/blog.bumdes.id\/2019\/08\/tantangan-yang-dihadapi-desa-wisata\/<\/a><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><a href=\"https:\/\/www.dewitinalah.com\/2021\/06\/desa-wisata-digital.html\">https:\/\/www.dewitinalah.com\/2021\/06\/desa-wisata-digital.html<\/a><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Indonesia merupakan negara yang memiliki banyak objek pariwisata untuk dikunjungi, baik wisata alam maupun wisata buatannya. Tingginya minat masyarakat yang ingin berkunjung di berbagai objek pariwisata, membuat industri pariwisata dapat mendatangkan manfaat dan keuntungan bagi sebagian besar masyarakat Indonesia. Tidak sedikit wisatawan lokal maupun mancanegara datang untuk menikmati daya tarik wisata yang ada di Indonesia. [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":3,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"site-sidebar-layout":"default","site-content-layout":"default","ast-site-content-layout":"","site-content-style":"default","site-sidebar-style":"default","ast-global-header-display":"","ast-banner-title-visibility":"","ast-main-header-display":"","ast-hfb-above-header-display":"","ast-hfb-below-header-display":"","ast-hfb-mobile-header-display":"","site-post-title":"","ast-breadcrumbs-content":"","ast-featured-img":"","footer-sml-layout":"","theme-transparent-header-meta":"default","adv-header-id-meta":"","stick-header-meta":"","header-above-stick-meta":"","header-main-stick-meta":"","header-below-stick-meta":"","astra-migrate-meta-layouts":"default","ast-page-background-enabled":"default","ast-page-background-meta":{"desktop":{"background-color":"var(--ast-global-color-4)","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-gradient":""},"tablet":{"background-color":"","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-gradient":""},"mobile":{"background-color":"","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-gradient":""}},"ast-content-background-meta":{"desktop":{"background-color":"var(--ast-global-color-5)","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-gradient":""},"tablet":{"background-color":"var(--ast-global-color-5)","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-gradient":""},"mobile":{"background-color":"var(--ast-global-color-5)","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-gradient":""}},"footnotes":""},"categories":[53],"tags":[],"class_list":["post-2269","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-ide-untuk-desa"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/sanberfoundation.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/2269","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/sanberfoundation.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/sanberfoundation.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/sanberfoundation.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/3"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/sanberfoundation.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=2269"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/sanberfoundation.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/2269\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":2273,"href":"https:\/\/sanberfoundation.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/2269\/revisions\/2273"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/sanberfoundation.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=2269"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/sanberfoundation.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=2269"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/sanberfoundation.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=2269"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}