
{"id":2298,"date":"2021-08-13T04:41:31","date_gmt":"2021-08-13T04:41:31","guid":{"rendered":"https:\/\/sanberfoundation.org\/?p=2298"},"modified":"2021-08-13T04:41:39","modified_gmt":"2021-08-13T04:41:39","slug":"indonesia-hampir-90-impor-kedelai","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/sanberfoundation.org\/?p=2298","title":{"rendered":"INDONESIA HAMPIR 90% IMPOR KEDELAI"},"content":{"rendered":"\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Indonesia adalah negara dengan konsumsi kedelai terbesar di dunia setelah China. Sebagian besar kedelai terserap untuk kebutuhan produksi tahu dan tempe. Tahu dan tempe merupakan makanan rakyat yang disukai masyarkat Indonesia dan sudah ada dari zaman soekarno hingga sekarang, terlihat dari data Badan Pusat Statistik (BPS). Rata-rata setiap penduduk Indonesia mengonsumsi 0,152 kg tahu dalam sepekan. Sedangkan tempe sebanyak 0,139 kg. Sayangnya, bahan baku kedua pangan tersebut masih mengandalkan kedelai impor.<br><br>Menurut data Kementerian Pertanian, saat ini sekitar 90% kebutuhan kedelai di dalam negeri dipenuhi dari impor. Alhasil ketika harga kedelai melonjak di pasar global, maka harga kedelai dalam negeri turut mengalami kenaikan. Kondisi itu yang kini tengah dikeluhkan para perajin tahu dan tempe. Sekitar 70 persen kedelai dialokasikan untuk produksi tempe, 25 persen untuk produksi tahu, dan sisanya untuk produk lain. Tren impor kedelai mengalami peningkatan dari tahun ke tahun.<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image size-full\"><img fetchpriority=\"high\" decoding=\"async\" width=\"928\" height=\"323\" src=\"https:\/\/sanberfoundation.org\/wp-content\/uploads\/2021\/08\/1.png\" alt=\"\" class=\"wp-image-2300\" srcset=\"https:\/\/sanberfoundation.org\/wp-content\/uploads\/2021\/08\/1.png 928w, https:\/\/sanberfoundation.org\/wp-content\/uploads\/2021\/08\/1-300x104.png 300w, https:\/\/sanberfoundation.org\/wp-content\/uploads\/2021\/08\/1-768x267.png 768w, https:\/\/sanberfoundation.org\/wp-content\/uploads\/2021\/08\/1-600x209.png 600w\" sizes=\"(max-width: 928px) 100vw, 928px\" \/><\/figure>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Dapat dilihat dari tabel , negara-negara yang impor kedelai ke Indonesia diantaranya Amerika serikat, Kanada , Malaysia Argentina dan negera lainnya, hampir 90% pemasok terbanyak dari Amerika Serikat<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 Indonesia memang masih membutuhkan impor kedelai, Dimana rata-rata kebutuhan kedelai di Indonesia sebanyak 2 &#8211; 2,8 juta ton per tahun. Namun, produksi kedelai lokal saat ini hanya berkisar 800.000 ton per tahun. Permintaan kedelai banyak di Indonesia , kenapa sedikit produksi lokalnnya. Ada beberapa sebab yang membuat produksi kedelai lokal tidak memenuhi dan harus impor<\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\"><li>Produktivitas petani kedelai lokal rendah<\/li><\/ul>\n\n\n\n<div class=\"wp-block-image\"><figure class=\"aligncenter size-full is-resized\"><img decoding=\"async\" src=\"https:\/\/sanberfoundation.org\/wp-content\/uploads\/2021\/08\/2.png\" alt=\"\" class=\"wp-image-2301\" width=\"456\" height=\"295\" srcset=\"https:\/\/sanberfoundation.org\/wp-content\/uploads\/2021\/08\/2.png 635w, https:\/\/sanberfoundation.org\/wp-content\/uploads\/2021\/08\/2-300x194.png 300w, https:\/\/sanberfoundation.org\/wp-content\/uploads\/2021\/08\/2-600x388.png 600w\" sizes=\"(max-width: 456px) 100vw, 456px\" \/><\/figure><\/div>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Kementerian Pertanian memperkirakan produksi kedelai Indonesia terus menurun sejak 2021 hingga 2024. Pada tahun ini, proyeksi kedelai yang dihasilkan dari dalam negeri mencapai 613,3 ribu ton, turun 3,01% dari tahun lalu yang mencapai 632,3 ribu ton.Produksi kedelai Indonesia diperkirakan kembali turun 3,05% menjadi 594,6 ribu ton pada 2022. Setahun setelahnya, produksi kedelai bakal berkurang 3,09% menjadi 576,3 ribu ton. Sementara, kedelai yang berasal dari Indonesia turun 3,12% menjadi 558,3 ribu ton pada 2024.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Penurunan itu akibat luas lahan tanam kedelai terus berkurang akibat persaingan ketat penggunaan lahan dengan komoditas lain yang juga strategis, seperti jagung dan cabai dan\u00a0 menurut data terbaru tahun 2018, hanya ada sekitar 680.000 hektare yang menanam kedelai, sedangkan yang dibutuhkan untuk memenuhi permintaan dalam negeri dibutuhkan setidaknya 2,5 juta hektare.<\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\"><li>Budidaya kedelai kurang menguntungkan<\/li><\/ul>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Biaya untuk menanam kedelai tinggi, sehingga keuntungan petani semakin menipis, bisa dilihat selisihnya<\/p>\n\n\n\n<div class=\"wp-block-image\"><figure class=\"aligncenter size-full\"><img decoding=\"async\" width=\"421\" height=\"261\" src=\"https:\/\/sanberfoundation.org\/wp-content\/uploads\/2021\/08\/3.png\" alt=\"\" class=\"wp-image-2302\" srcset=\"https:\/\/sanberfoundation.org\/wp-content\/uploads\/2021\/08\/3.png 421w, https:\/\/sanberfoundation.org\/wp-content\/uploads\/2021\/08\/3-300x186.png 300w\" sizes=\"(max-width: 421px) 100vw, 421px\" \/><figcaption>Sumber : kementerian pertanian<\/figcaption><\/figure><\/div>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Tingginya ketergantungan bahan baku impor dapat menyebabkan harga tempe dan tahu tak stabil. Sebagaimana barang impor yang terpengaruh fluktuasi nilai tukar. Sejumlah perajin mengantisipasi tingginya harga bahan baku dengan menaikkan harga atau mengecilkan volume tempe dan tahu yang mereka produksi. Karena kalau harga jual tempe dan tahu tinggi akan ditinggalkan pelanggan<\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\"><li>Iklim Indonesia<\/li><\/ul>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">menurut Kepala Riset Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) Felippa Ann Amanta, produktivitas kedelai lokal yang rendah juga dipengaruhi oleh iklim di Indonesia. Kedelai adalah tanaman yang sebenarnya merupakan tanaman sub-tropis. Tanaman ini mendapatkan suhu harian dan musiman yang lebih beragam dari daerah tropis, sehingga pertumbuhan di daerah tropis yang hanya memiliki dua musim seperti Indonesia menjadi tidak maksimal. Iklim adalah salah satu faktor yang mempengaruhi tingkat produktivitas. Selain itu, kedelai adalah jenis tanaman yang membutuhkan kelembapan tanah yang cukup dan suhu yang relatif tinggi untuk pertumbuhan yang optimal. Sementara itu di Indonesia, curah hujan yang tinggi pada musim hujan sering berakibat tanah menjadi jenuh atau penuh air.<\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\"><li>Kurang berminatnya produsen tempe lokal<\/li><\/ul>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Kedelai lokal unggul dari impor dalam hal bahan baku pembuatan tahu. Rasa tahu lebih lezat, rendemennya pun lebih tingi, dan resiko terhadap kesehatan cukup rendah karena bukan benih transgenik. Sementara kedelai impor sebaliknya. Sekalipun unggul sebagai bahan baku tahu, kedelai lokal punya kelemahan untuk bahan baku tempe. Penyebabnya, ukuran kecil atau tidak seragam dan kurang bersih, kulit ari kacang sulit terkelupas saat proses pencucian kedelai, proses peragiannya pun lebih lama. Lalu setelah berbentuk tempe, proses pengukusan lebih lama empuknya. Bahkan bisa kurang empuk.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Impor salah satu solusi untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri dan untuk mengatasi persoalan kenaikan harga komoditas tersebut.Namun demikian sepertinya hal itu hanyalah penyelesaian sesaat dan bukan merupakan solusi permanen terhadap persoalan kekurangan pasokan kedelai yang hampir setiap tahun selalu terjadi di dalam negeri.Persoalan kekurangan pasokan kedelai di dalam negeri hanya bisa diatasi dengan peningkatan produksi nasional sehingga ke depan tidak lagi menggantungkan dari impor dan pemerintah sebaiknya fokus pada upaya untuk meningkatkan produktivitas dan kualitas kedelai nasional. Budidaya dan ekspor kedelai terbesar di Amerika Serikat, budidaya disana didukung oleh teknologi mulai dari pemilihan bibit, penanaman, penyiraman dan panen menggunakan teknologi, sehingga hasil panenya berkwalitas dan banyak.Masalah petani Indonesia memang kurang pengetahuan akan teknologi, padahal teknologi banyak manfaatnya. Sanber Foundation tetap akan berusaha membantu berdayakan masyarakat desa,menghidupkan ekonomi desa melalui teknologi agar potensi masing-masing desa bisa maksimal<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Sumber :<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><a href=\"https:\/\/theconversation.com\/mengapa-indonesia-belum-terlepas-candu-impor-kedelai-dari-amerika-serikat-152992\">https:\/\/theconversation.com\/mengapa-indonesia-belum-terlepas-candu-impor-kedelai-dari-amerika-serikat-152992<\/a><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><a href=\"https:\/\/katadata.co.id\/ariayudhistira\/analisisdata\/60c0a5b8dd2ac\/ironi-impor-kedelai-bangsa-tempe\">https:\/\/katadata.co.id\/ariayudhistira\/analisisdata\/60c0a5b8dd2ac\/ironi-impor-kedelai-bangsa-tempe<\/a><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><a href=\"https:\/\/money.kompas.com\/read\/2021\/01\/03\/134256526\/mengapa-indonesia-begitu-bergantung-pada-kedelai-impor-dari-as?page=all\">https:\/\/money.kompas.com\/read\/2021\/01\/03\/134256526\/mengapa-indonesia-begitu-bergantung-pada-kedelai-impor-dari-as?page=all<\/a><br><a href=\"https:\/\/www.merdeka.com\/uang\/ketergantungan-impor-dan-kendala-swasembada-kedelai-di-indonesia.html?page=2\">https:\/\/www.merdeka.com\/uang\/ketergantungan-impor-dan-kendala-swasembada-kedelai-di-indonesia.html?page=2<\/a><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><br><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Indonesia adalah negara dengan konsumsi kedelai terbesar di dunia setelah China. Sebagian besar kedelai terserap untuk kebutuhan produksi tahu dan tempe. Tahu dan tempe merupakan makanan rakyat yang disukai masyarkat Indonesia dan sudah ada dari zaman soekarno hingga sekarang, terlihat dari data Badan Pusat Statistik (BPS). Rata-rata setiap penduduk Indonesia mengonsumsi 0,152 kg tahu dalam [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":3,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"site-sidebar-layout":"default","site-content-layout":"default","ast-site-content-layout":"","site-content-style":"default","site-sidebar-style":"default","ast-global-header-display":"","ast-banner-title-visibility":"","ast-main-header-display":"","ast-hfb-above-header-display":"","ast-hfb-below-header-display":"","ast-hfb-mobile-header-display":"","site-post-title":"","ast-breadcrumbs-content":"","ast-featured-img":"","footer-sml-layout":"","theme-transparent-header-meta":"default","adv-header-id-meta":"","stick-header-meta":"","header-above-stick-meta":"","header-main-stick-meta":"","header-below-stick-meta":"","astra-migrate-meta-layouts":"default","ast-page-background-enabled":"default","ast-page-background-meta":{"desktop":{"background-color":"var(--ast-global-color-4)","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-gradient":""},"tablet":{"background-color":"","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-gradient":""},"mobile":{"background-color":"","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-gradient":""}},"ast-content-background-meta":{"desktop":{"background-color":"var(--ast-global-color-5)","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-gradient":""},"tablet":{"background-color":"var(--ast-global-color-5)","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-gradient":""},"mobile":{"background-color":"var(--ast-global-color-5)","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-gradient":""}},"footnotes":""},"categories":[53],"tags":[],"class_list":["post-2298","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-ide-untuk-desa"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/sanberfoundation.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/2298","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/sanberfoundation.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/sanberfoundation.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/sanberfoundation.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/3"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/sanberfoundation.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=2298"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/sanberfoundation.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/2298\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":2303,"href":"https:\/\/sanberfoundation.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/2298\/revisions\/2303"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/sanberfoundation.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=2298"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/sanberfoundation.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=2298"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/sanberfoundation.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=2298"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}